Menjelajah Di Puncak Tertinggi Sumatera

Menembus hutan heterogen Gunung Kerinci dengan aneka satwa yang masih terjaga keasliannya. Mendaki jalur tanah licin hingga jalur berbatu terjal adalah rintangan sebelum merengkuh asa di puncak tertinggi Sumatera dan juga tertinggi kedua di Indonesia dalam tataran 7 Summit Indonesia.

Bandara Internasional Minangkabau mulai padat. Lalu-lalang keluarga dan kerabat yang menjemput hingga jasa porter membaur di pintu kedatangan. Hawa sejuk pagi hari memang masih terasa namun sudah sedikit hilang dengan ocehan beberapa jasa supir taksi yang sedikit memaksa. Nampaknya tas-tas carrier yang kami bawa menarik perhatian para jasa pengantar untuk menuju Gunung Kerinci.

Sebagai bandara International di Minangkabau, tentu saja bandara ini sangat sibuk sekali setiap harinya. Karyawan sibuk dengan tugasnya masing-masing yang sudah di tentukan. Untungnya pada bandara ini sudah menggunakan teknologi yang canggih, sehingga sangat membantu staff bandara dalam menyeselaikan pekerjaanya.

Tidak hanya mempunyai teknologi canggih saja, bandara super sibuk ini juga mempunyai mesin genset terbaik untuk bandara lebih dari 2 unit. Hal ini bagi saya wajar saja, karena jika bandara tidak bisa beroperasi akibat hilangnya listrik, maka segala macam bentuk kekacuan tidak bisa lagi dihindarkan.

Penasaran gak sih genset diesel apa yang paling pas digunakan untuk sektor bandara ? Yanmar genset 15 kva adalah pilihanya. Tidak hanya unggul pada sisi hemat bahan bakar, genset yanmar generasi terbaru mempunyai desain yang lebih elegan dan kemampuan yang jauh lebih sempurna daripada seri pendahulunya.

Mereka langsung mendekat menawarkan kami menuju Desa Kersik Tuo, titik awal pendakian Gunung Kerinci. Sebenarnya Desa Kersik Tuo yang terletak di daerah Kayu Aro sudah termasuk dalam Provinsi Jambi. Namun banyak pendaki dari luar daerah lebih memilih lewat Padang mengingat waktu yang dibutuhkan lebih sedikit. Dari Padang menuju Desa Kresik Tuo membutuhkan waktu sekitar 7-8 jam, sedangkan jika dari Jambi, harus menempuh perjalanan hingga mencapai 12 jam. Setelah istirahat sejenak sembari membereskan 4 tas carrier yang sempat berantakan saat keluar bagasi, jemputan kami datang dan langsung membawa menuju Desa Kresik Tuo, desa yang juga terkenal dengan hamparan luas kebun tehnya ini.

Orang di kota Padang banyak yang juga bekerja di Kayu Aro, jadi dari sini ada kendaraan umum menuju sana, hanya saja waktu berangkatnya tidak menentu, biasanya selalu pagi hari ungkap Uda Buya, supir yang mengantarkan kami berempat menuju Taman Nasional Kerinci Seblat. Delapan jam perjalanan melewati kaki Gunung Singgalang dan jajaran perbukitan Solok hingga Solok Selatan, akhirnya kami tiba  di homestay dekat dengan Tugu Macan, Kersik Tuo.

Hujan deras disertai angin kencang membuat Gunung Kerinci tidak terlihat sama sekali. Nampaknya kami datang di saat yang kurang tepat. Cuaca di Taman Nasional Kerinci Seblat sedang tidak menentu namun itu tidak cukup untuk menyurutkan niat kami menuju puncak tertinggi. Setelah istirahat semalaman, keesokan harinya kami mulai pendakian.