Ketika nilai Dollar AS terhadap hampir kebanyakan mata uang negaranegara di dunia (termasuk Rupiah) semakin menguat (terbang tinggi!) — kondisi yang sebenarnya terjadi secara reguler dan memang kecenderungannya seperti itu—lalu semakin banyak orang yang mulai penasaran dan bertanya-tanya bagaimana cara berinvestasi dengan instrumen valas alias valuta asing atau forex (foreign exchange) terutama Dollar AS? Apakah bisa dibilang memiliki Dollar sama dengan berinvestasi? Pada dasarnya, investasi tidak selalu diartikan sebagai keuntungan atau margin yang didapat oleh investor.

Mengulik Investasi Valuta Asing Dengan Cermat

Dalam perencanaan keuangan pribadi, instrumen keuangan yang dapat dikategorikan sebagai media untuk berinvestasi harus memberikan seminim-minimnya manfaat kepada investor dalam bentuk keuntungan yang dapat mengalahkan laju inflasi. Tentu saja akan ada risiko yang melekat padanya. Akan tetapi, apabila masing-masing produk keuangan tersebut disesuaikan dengan jangka waktu tujuan keuangan yang dimiliki, maka rIsiko yang ada akan dengan sendirinya dapat dikelola.

Baca juga : asuransi pendidikan terbaik yang ada di Indonesia

Pro dan Kontra dalam memandang dan mengkategorikan suatu produk atau instrumen keuangan termasuk dalam produk investasi atau tidak, tentu akan terdapat beragam pandangan yang mengikuti serta akan selalu ada yang setuju (pro) dan ada juga yang tidak setuju (kontra). Dalam hal kepemilikan mata uang tertentu dan kaitannya dengan investasi, apabila dilihat dari sudut pandang ekonomi, semakin tinggi permintaan terhadap suatu mata uang (misalnya Dollar AS) di dalam negeri, maka otomatis nilai Dollar AS akan naik dibandingkan mata uang lokal.

Sebagaimana hukum permintaan versus penawaran yang berlaku. Namun, rendahnya permintaan terhadap Dollar AS belum tentu akan membuat nilai mata uang lokal menguat secara siginifikan disebabkan adanya pengaruh faktor lain berupa kinerja kegiatan perekonomian di dalam maupun luar negeri. Secara kasat mata dan praktis mengenai hubungan antara Dollar AS dan Rupiah, apabila dilihat data kasar pada saat kepemimpinan terakhir dari Presiden SBY saja (2009–2014) akan didapat angka persentase kenaikan nilai dollar terhadap rupiah sekitar 21%.

Jika dibagi rata, maka kenaikan nilai Dollar AS terhadap rupiah berkisar lebih dari 3% setiap tahunnya. Apabila penguatan konsisten Dollar AS terhadap Rupiah secara persentase tahunan itu ditambahkan dengan hasil pembagian keuntungan apabila (misalnya) Dollar AS tersebut ditempatkan pada instrumen deposito Dollar AS, tentu persentase kenaikan totalnya akan terlihat cukup menjanjikan. Angka tersebut memang cukup pantas untuk meyakinkan beberapa kalangan bahwa menempatkan dana pada instrumen valuta asing, dalam hal ini Dollar AS, ternyata pada titik tertentu “return”-nya bisa menyaingi instrumen keuangan yang digunakan oleh masyarakat secara umum. Jadi, apakah “memegang” Dollar AS dengan cara seperti itu yang bisa disebut sebagai investasi pada valuta asing (valas)? Tentu jawabannya harus dianalisis lebih lanjut.

Jika dilihat secara lebih cermat, yang sering kali didengar serta ditawarkan kepada masyarakat umum tentang berinvestasi pada valas sebenarnya malah bertentangan dengan prinsip investasi itu sendiri. Mengapa demikian? Karena dalam prinsip investasi secara umum, sang investor tidak wajib memiliki kemampuan untuk mengelola dan mengembangkan dana. Dengan kondisi seperti itu, keuntungan yang didapat dari investor dihasilkan dari pihak lain yang memang memiliki kemampuan untuk mengelola dananya. Sedangkan pada transaksi valas, sistem yang digunakan adalah jual-beli (trading) yang berarti margin yang didapat akan sangat bergantung pada kemampuan pemodal melihat peluang dalam transaksi jual dan beli mata uang asing dan pada akhirnya diharapkan dapat mengambil keutungan dari sana. Jadi, pada instrumen valas ini, jangan berharap pemodal hanya melakukan penempatan dana saja sambil berharap akan adanya pengembangan dari dananya apabila pemodalnya sendiri tidak mengelola dana tersebut dengan cara jual-beli.

Walaupun ada yang mengatakan sistem jual-beli valas (trading forex) dapat dikatakan sebagai investasi apabila dilakukan dalam jangka panjang (biasa disebut long-term trading), namun perlu diuji lebih lanjut tentang hasil yang berpotensi akan didapat jika ternyata tidak semaksimal dengan cara trading tadi. Secara lebih spesifik, biasanya sistem yang digunakan pada transaksi valas di sini adalah menggunakan pasangan mata uang (pairs) yang memiliki nilai tukar cukup stabil dan tercermin dari negara si pemilik mata uang tersebut yang biasanya telah maju (developed). Dari situlah kemampuan analisis sang “investor” diuji.

Apabila hanya bermodalkan pengetahuan dan pengalaman yang minim, maka akan sangat sulit dicerna dengan pemikiran rasional terkait proyeksi profit yang berpotensi didapatkan. Dari sisi jumlah modal yang dibutuhkan untuk memulai transaksi valas, dikarenakan sistem transaksinya ( jual-beli) sejenis dengan transaksi saham, maka dibutuhkan juga pembelian minimal dalam satuan lot (satu bundle) yang berarti membutuhkan modal yang juga relatif tidak sedikit. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya terkait transaksi valas ini adalah tentang apakah ada pola yang konsisten yang dapat diberikan oleh jenis “investasi” pada valas ini? Jawabannya, relatif tidak ada. Semua akan bergantung pada kelihaian dan pengalaman sang trader (orang yang melakukan transaksi valas).

Kenaikan secara reguler memang benar dialami pada nilai tukar mata uang beberapa negara semisal Dollar AS (dan mata uang negara lainnya) terhadap Rupiah. Namun, hal ini juga tidak telepas dari beberapa faktor seperti eksternal dan internal, serta peran spekulan yang memang tidak dapat dikontrol oleh perekonomian dalam negeri sepenuhnya. Yang tidak boleh dilupakan adalah tujuan berinvestasi, yaitu agar terciptanya kegiatan ekonomi yang dapat memberikan nilai tambah pada sektor tertentu sehingga dapat memberikan hasil yang dapat dibagikan kepada para investornya. Kalau definisi investasi yang sebenarnya adalah seperti itu, lalu masih pantaskah menukarkan dana yang kita miliki dalam bentuk Dollar AS atau mata uang negara lain disebut dengan berinvestasi? Tentu jawabannya akan bergantung pada persepsi masing-masing dari kita.

Yang pasti, apabila tujuan berinvestasi adalah untuk mengalahkan laju inflasi domestik (pengertian investasi ini umum disosialisasikan oleh perencana keuangan profesional), maka menempatkan dana pada valuta asing belum tentu akan menjadi bentuk investasi yang bijak karena adanya faktor-faktor diluar “kekuasaan” kita. Mencari tahu dan memahami suatu instrumen keuangan memang sangat dianjurkan. Kita sebagai calon investor juga harus mantap terlebih dahulu dalam menetapkan etika personal untuk menempatkan dana ke instrumen keuangan yang memang dapat mendukung pencapaian tujuan-tujuan keuangan. Jangan sampai karena berdasarkan tren jangka pendek, kita malah terjerembab lebih dalam hingga “menggadaikan” tujuan keuangan yang lebih besar lagi, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang-orang yang kita sayangi.